Pilkada DKI, Najwa Shihab, dan Indahnya Toleransi di Pegunungan Alor

Akhir-akhir ini jagad dunia maya sedang hangat dengan isu sara di Pilkada DKI. Mumpung masih anget-angetnya bolehlah sedikit urun tulisan. Tulisan ini tidak sedang mengarahkan Anda untuk memilih Ahok, Agus, ataupun Anies. Tidak pula ikut meramaikan penafsiran surat Al Maidah ayat 51.

Saya bukan Quraish Shihab yang ahli Tafsir. Apalagi Najwa Shihab yang ada manis-manisnya itu. Yang kalau menatap matanya bisa menggoyahkan iman. Saya juga bukan orang suci seperti Tong Sancong, Master Shifu, Master Ogway, Rinso, Krim ekonomi, wardah, sinsui, atau baiklin.

Saya hanya seonggok pemuda yang terdampar di Pulau Alor. Sebuah pulau yang mengenalkan tentang harmoni alam, indahnya toleransi, babi unyu, sopi (tanpa Latjuba), dan anjing omnivora (nanti baca tulisan saya tentang dunia anjing di Alor). Oleh karenanya, saya tak pantas untuk komentar tentang isu-isu sara yang saat ini bergentayangan bak sinetron Anak Jalanan dan Mars Perindo.

Di tengah ramainya isu sara, saya juga tidak ingin memperkeruh suasana DKI. Cukup Ciliwung saja yang keruh, bukan hati dan pikiran kita. Tulisan ini hanya berbicara kedamaian, sedamai tatapan Najwa Shihab.

Goresan kata ini hanya berbicara kehangatan, sehangat senyum Najwa Shihab. Kalaupun Anda tidak menemukan kedamaian dan kehangatan dalam tulisan ini, mungkin tontonan Mata Najwa bisa menjadi obat penawarnya.

Taramiti Tominuku

Indonesia punya semboyan Bhineka Tunggal Ika, Alor punya Taramiti Tominuku. Maknanya sama, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Berbagai suku tersebar di daerah Alor. Mayoritas penduduk Alor beragama Kristen. Namun uniknya Al Quran tertua se-Asia Tenggara bisa Anda temukan di pulau ini. Keragaman suku dan agama di Alor menjadi laboratorium unik dalam hidup bertoleransi.

“Mayoritas penduduk Alor beragama Kristen. Namun uniknya Al Quran tertua se-Asia Tenggara bisa Anda temukan di pulau ini”

Pertama saya datang di Alor, ada beberapa kegalauan yang datang menghampiri. Sebagai seorang muslim, banyak pertanyaan saya mengenai makanan halal dan kemudahan beribadah ketika di desa. Namun kegalauan itu cepat sirna, secepat kedipan Najwa Shihab yang menggemaskan itu.

Warga desa tempat saya tinggal sangat memahami tentang makanan bagi saudara yang Muslim. Dalam acara-acara adat, mereka selalu menyembelih babi dan ayam.

Mereka selalu meminta saya untuk untuk menjadi juru jagal. Lumayan juga, sekali acara bisa langsung belasan ayam disembelih. Mungkin kalau bulan Agustus ada lomba sembelih ayam tingkat kabupaten, niscaya saya akan diutus untuk mewakili desa saya.

Tak hanya ayam, kambingpun tak luput dari “pembantaian”. Pernah kawan  perempuan saya di Alor membantai dua kambing di desanya. Mau gimana lagi, dia satu-satunya muslim di desa itu. Meski perempuan, warga desa sangat menghormati dengan memberinya kesempatan untuk menyembelih.

Setelah disembelih, proses memasaknya juga sangat baik. Mereka memisahkan tempat untuk memasak babi dengan ayam/kambing. Lebih menariknya lagi, dalam penyajian sampai ada jalur khusus. Jalur Babi dan jalur ayam saya menyebutnya.

Hal ini saya temukan beberapa hari yang lalu ketika syukuran wisuda saudara Bapak Desa. Saya satu-satunya tamu Muslim di acara itu, tetapi mereka sangat memperhatikan saudaranya yang Muslim.

Saya diminta menyembelih belasan ayam. Setelah itu mereka juga membuat dua meja terpisah. Satu meja adalah aneka olahan dari babi, meja yang lain berupa olahan dari ayam.

Keamanan alat masakpun mereka perhatikan. Alat-alat masak digantung di dinding dengan posisi terbalik supaya tidak dijilat oleh anjing.

Tak hanya makananan, umat kristen di Pegunungan Alor juga sangat mempermudah umat Muslim untuk beribadah. Misalkan di tengah acara, saya izin untuk salat, warga langsung membantu mengarahkan kamar mana yang akan dipakai.

Termasuk menyiapkan tikar sampai sarung. Menunjukkan arah ke barat dan menghantarkan ke tempat mengambil air wudhu.

Warga desa juga sangat paham jika setiap Jumat, laki-laki Muslim wajib beribadah Salat Jumat. Biasanya setiap Jumat saya turun ke kota, karena tidak ada masjid di daerah Pegunungan Alor.

Ada hal yang cukup membuat saya tersentuh ketika kami survei PLTS dan PLTMH di daerah Alor Selatan. Waktu itu hari Jumat dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Kami berencana pergi ke kota untuk melaksanakan Salat Jumat.

Malam Jumatnya hujan deras sehingga jalan penuh dengan lumpur dan sulit dilewati. Alhasil jika menggunakan mobil, dapat dipastikan kami akan telat untuk sampai di masjid terdekat di kota.

“Udah mas, pakai motor ini saja,” kata warga desa.

“Nanti Mas pakai sampai kota, terus saya menyusul ke kota untuk ambil motor yang mas pinjam. Kalau pakai mobil nanti malah telat,” sambungnya.

Warga desa meminjamkan motor yang paling baik, supaya bisa melaju dengan cepat.  Alhamdulillah, sekitar lima menit sebelum adzan kami sampai di masjid terdekat.

Kisah lain yang tak kalah menarik saya dapatkan ketika hari Raya Idul Adha bulan lalu. Kami tim Patriot Energi Alor berqurban di daerah Lola, Alor Barat Daya. Ada belasan kambing yang disembelih dari berbagai donatur.

Fenomena menarik saya temui ketika proses penyaluran daging untuk masyarakat. Pihak panitia tidak hanya membagikan daging ke masjid-masjid terdekat, tetapi sebagian daging juga disalurkan ke salah satu gereja yang berdekatan dengan kampung Muslim tempat kami berqurban.

“Pihak panitia tidak hanya membagikan daging ke masjid-masjid terdekat, tetapi sebagian daging juga disalurkan ke salah satu gereja yang berdekatan dengan kampung Muslim tempat kami berqurban”

Daging tersebut langsung dibagikan ke pengurus gereja untuk disalurkan ke umat Kristiani di kampung tersebut. Indahnya toleransi Kristen dan Islam memang sudah terbangun sejak lama.

Bahkan beberapa hari yang lalu, saya dengar dari Bapak desa tentang pembangunan rumah ibadah yang melibatkan umat Islam dan Kristen. Begitulah indahnya Islam dan Kristen di Alor.

Memang mereka tinggal di desa-desa terpencil, tetapi soal toleransi mereka patut menjadi contoh. Walaupun berbeda secara agama, suku, dan berbagai perbedaan lainnya, tetapi tetap satu. Satu Indonesia

Siapa yang Lebih Tertinggal

Secara umum kadang timbul pemahaman bahwa orang-orang di daerah terpencil adalah orang yang tertinggal. Pendidikan mereka rata-rata hanya SD-SMP atau bahkan tidak sekolah.

Namun di daerah yang dikatakan tertinggal ini, saya menemukan sebuah kedamaian yang begitu indah. Mereka begitu ramah pada pendatang. Walaupun saya minoritas, tetapi tetap menjadi prioritas.

Di sisi lain tidak sedikit kita jumpai di daerah yang pendidikannya lebih maju atau di dunia maya yang banyak diisi oleh orang terdidik, masih banyak kita temukan propaganda bahkan adu domba antarumat beragama. Bukankah mereka lebih terdidik? Lalu siapa yang lebih tertinggal?

Hmmm, kalau boleh saya bertemu Dimas Kanjeng, saya sarankan ke beliau supaya jangan gandakan uang. Lebih baik Mas Dimas gandakan lagi kedamaian di Indonesia, gandakan pemimpin-pemimpin yang baik, dan tak lupa gandakan presenter favorit saya, Najwa Shihab. #Eh. Maafkan penggemar rahasiamu ini Mbak Najwa, hahahaha.

“Lebih baik Mas Dimas gandakan lagi kedamaian di Indonesia, gandakan pemimpin-pemimpin yang baik …”

Tulisan ini pernah dimuat di Selasar.com pada bulan November 2016.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *