“Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Potongan lagu Koes Plus yang menggambarkan kesuburan tanah di Indonesia. Sayangnya lagu itu tidak seluruhnya mewakili daerah-daerah di Indonesia. Kalau di daerah NTT lirik lagu tersebut diplesetkan menjadi “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tawuran. Stereotype yang muncul dari daerah NTT memang tidak jauh dari daerah yang tandus dan kerusuhan. Lalu apakah semua daerah di NTT semuanya seperti itu?

11 bulan hidup di Alor, Nusa Tenggara Timur, membuat saya tergugah bahwa stereotype negatif itu tidak sepenuhnya benar. Dibalik rambut keriting dan kulit gelap, tersimpan senyum ikhlas dan hati yang bening. Dibalik tanah yang tandus, masih ada oase-oase yang sejuk nan subur. Perpaduan keduanya berhasil membuat saya jatuh cinta dari hari ke hari.

Tahun ini adalah kali kedua aku bertugas di Alor dalam program Patriot Energi. Aku ditempatkan di Desa Manmas, kecamatan Alor Selatan. Sebuah desa yang menyuguhkan indahnya pegunungan, kedamaian, dan warga yang penuh keramahan. Di desa ini berbagai tanaman perkebunan hidup subur. Mulai dari kemiri, vanili, kopi sampai aneka umbi-umbian jumlahnya begitu melimpah. Hasil alamnya memang melimpah, tapi kesejahteraan masih juga lambat untuk berubah. Bagimana mau berubah kalau semua hasil dijual mentah. Bagaimana mau hidup enak, kalau masih dijajah oleh tengkulak.

Kini listrik sudah mulai masuk desa. Dulu desa gelap gulita. Kalaupun ada cahaya, itu juga hanya seberkas pelita. Apakah terangnya sebuah desa hanya menerangi ruangan, atau bisa memantik sebuah perubahan? Kini televisi bisa dinikmati, meski hanya satu biji. Apakah informasi dari telivisi membuat orang menjadi sadar akan potensi desa, atau jangan-jangan sinetron murahan lebih menggoda? Di sanalah tantangan seorang patriot energi untuk memantik sebuah perubahan.

Patriot energi datang bukan memberi solusi seorang diri, tetapi bersama-sama masyarakat mencari solusi terbaik untuk membuat perubahan. Aku berpikir, kira-kira perubahan apa yang bisa kami buat untuk desa? Mulailah aku berdiskusi dengan kepala desa sampai para tetua-tetua desa.

Mas, biar saja kami tidak pernah ke jakarta, tapi kita pung pikiran harus maju seperti orang Jakarta,”kata mama desa. Begitulah semangat seorang warga desa bahwa mereka memang hidup di desa, tapi mereka juga punya keinginan kuat untuk maju.

Lain lagi dengan bapak Elias. Mas, Alor ini kaya, banyak sumber dayanya, tapi lagi-lagi orang Jawa, Makasar sampai Tionghoa yang punya pemikiran maju untuk kelola ini Alor. Dari diskusi dengan warga desa, mulailah kami terpikir untuk mengolah hasil alam dari desa. Untuk kali ini kami mencoba untuk mengolah kopi, singkong dan pisang. Dua bulan sebelum aku kembali ke Alor, kusempatkan diriku berguru ke beberapa ahli kopi di Jawa untuk merancang pasca panen kopi yang berkualitas. Untuk mengolah singkong dan pisang aku bawa juga alat pemotong untuk membuat keripik.

Warga desa menyambut baik ide tentang pengolahan komoditi desa. Apalagi di bulan Agustus 2016 akan ada pameran produk-produk dari desa dalam acara Alor Expo. Alangkah bangganya jika sebuah desa telah mampu membuat karya dari sumber daya asli dari desanya. Aku begitu terhenyak melihat semangat warga desa. Tiap-tiap dusun bergotong royong membawa hasil alamnya berupa kopi, singkong dan pisang. Mereka memberikanya secara gratis untuk kemudian diolah bersama-sama. Aku melihat tatapan mama-mama yang penuh semangat saat memotong singkong sampai menggoreng. Anak-anak SD sampai SMA pun ikut membantu pembuatan produk keripik dan kopi. Sehari semalam kami begadang untuk menyiapkan produk-produk yang akan dipamerkan di expo. Keripik singkong dan pisang kami olah dengan aneka rasa. Mulai dari rasa ayam bawang, balado, sampai rasa coklat. Selanjutnya dikemas secara menarik dengan label berjudul “Keripik Manmas”. Begitu juga dengan kopi, dikemas dengan kemasan yang tak kalah menarik.

Membuat keripik bersama warga desa manman

Membuat keripik bersama warga desa manman

Kerja keras warga desa berbuah manis. Produk-produk hasil dari desa Manmas banyak diminati oleh masyarakat Alor. Keripik singkong balado paling laris dibeli. Untuk produk Kopi Manmas bahkan sampai kehabisan stok. Animo positif ini menimbulkan rasa optimis bagi warga desa untuk melanjutkan usaha produktif dari keripik singkong, pisang dan produk kopi.

Bapak Bupati Alor sedang membeli kopi dari desa Manmas

Bapak Bupati Alor sedang membeli kopi dari desa Manmas

Usaha pembuatan keripik dan kopi tidak berhenti di saat expo saja. Kini usaha keripik sudah merambah pasar di desa dan sekolah di kota Kalabahi. Kalau ada peluang pameran, kami juga ikut serta untuk memamerkan produk-produk desa. Bulan Oktober 2016 kami ikut serta dalam pameran dalam rangka peringatan Hari Pangan Nasional. Kali ini tidak hanya membawa produk keripik dan kopi, kami juga membuat olahan dendeng dari jantung pisang. Stand kami mendapat kunjungan dari Bupati sampai dengan anggota DPRD. Para pejabat tersebut memborong produk-produk yang kami pamerkan.

Usaha keripik dan kopi sangat terbantu dengan adanya listrik desa. Listrik desa berguna untuk menyalakan mesin pengepres kemasan. Selain itu juga menjadi penerang saat bekerja di malam hari. Kini listrik desa benar-benar menjadi penerang. Tidak hanya membuat terang desa, tetapi ekonomi desa juga semakin terang.

Dalam keberjalanan usaha keripik dan kopi di desa memang tidak sepenuhnya lancar. Tapi setidaknya kami telah mencoba dan memulai. Kami yakin kami bisa. Kami yakin bahwa orang desa berdaya dengan karya-karya nyata.

Oleh : Madi

November, 2016

Share this :