Madina's Family

Writing, Travelling, Empowering

Cahaya Kami dari Timor Leste

Dua hari dua malam yang tak akan terlupakan dalam hidup kami. Begitulah kami berlima kompak berucap dari hati. Saya bersama dirga, ais,lina dan rista berkesempatan untuk melakukan survei PLTS dan PLTMH guna diusulkan ke pemerintah pusat lewat dinas pertambangan dan energi di Alor. Cerita ini berwal ketika bapak desa Manmas mengajak saya berdiskusi tentang desa-desa di bagian selatan Alor yang belum mendapatkan akses listrik.”Mas, sampai dunia kiamat itu PLN juga gak akan masuk ke daerah itu, “kata Bapak Desa dengan nada tinggi. Aku terdiam dan penasaran, ini benar atau berlebihan yaa, gumamku dalam hati.

Mas, nanti coba ke sana dan lihat sendiri desa –desa itu, baru Mas percaya. Mas bisa bantu saya kah untuk pengusulan PLTS untuk desa-desa yang belum terlistriki? Siap pak, itu sudah menjadi salah satu tugas kami sebagai patriot energi,”jawabku.

Ajakan Bapak Desa ini seakan menjadi jawaban kami beberapa hari sebelumnya tentang rencana tim energi untuk melakukan survei di lokasi-lokasi yang belum terlistriki. Patriot Energi Alor tahun ini memiliki 5  kegiatan dalam bidang energi, ekonomi produktif (berbasis sumber daya lokal), kesehatan (kolaborasi dengan Nusantara Sehat), Pariwisata, dan Pendidikan. Fokus utama kami ada di bidang energi dan ekonomi produktif. Kami berdua belas berbagi peran dan saling mengisi guna membuat aksi-aksi nyata dalam bidang tersebut. Khusus dalam bidang energi kami punya target untuk melakukan validasi data kelistrikan di alor (utamanya kondisi Pembangkit EBT yang telah dibangun, mengidentifikasi masalah dan solusinya), melakukan survei EBT utamanya di daerah yang belum mendapatkan akses listrik serta membuat laporan rekomendasi untuk pengelolaan EBT di Alor. Sektor energi menjadi hal yang begitu penting karena masih ada 19.598 rumah ( 41,46 %) di Alor  yang belum terlistriki (database listrik Alor, 2014)

Sebelum kami melakukan survei, saya dengan bapak desa berkunjung ke rumah pak Mad (pegawai distamben yang mengurus PLTS) untuk berdiskusi tentang rencana kami terkait pengusulan pembangkit listrik untuk desa-desa di Alor Selatan. Pak Mad menyambut baik niat kami. Namun ada beberapa kendala dari distamben. Distamben Alor biasa melakukan FS dan DED secara mandiri, tanpa melibatkan pihak ketiga. Bulan Oktober ini distamben sudah tidak ada lagi, sehingga biaya-biaya untuk survei sudah tidak ada lagi,” kata pak Mad. Kalau begitu bagaimana kalau teman-teman patriot saja yang membantu survei. Kami sempat ada pelatihan FS dan DED untuk PLTS,” kataku. Boleh kalu begitu, nanti kami bantu di birokrasinya,”tambah pak Mad. Akhirnya kami bersepakat untuk saling bekerjasama untuk membantu pengusulan beberap desa yang belum mendapat akses listrik di Alor bagian Selatan. Tinggal sekarang saya sedang berpikir, bagimana ya kendaraan untuk ke sana. Belum sampai kami mencari-cari kendaraan, Bapak desa Manmas memberikan tawaran baik kepada kami. Mas untuk transportasi ke desa-desa jangan khawatir, nanti pakai Panser saya aja. Panser itu semacam mobil offroad yang biasa dipakai orang desa di daerah pegunungan Alor. Belakangan saya tanya sewa panser ke area pelosok alor selatan  satu harinya bisa dua juta rupiah. Hmmm, benar-benar kebaikan itu menular. Niat baik kami didukung oleh dinas dan dibantu kendaraan dengan  sopir untuk masuk ke pelosok desa. Begitulah kebaikan, beresonansi untuk menjemput kebaikan lainnya.

MENYUSURI DESA DI PELOSOK ALOR SELATAN

Jam 06.00 pagi panser bapak desa sudah sampai di kosan. Dari kosan kami bergerak rumah Bapak Desa Manmas yang ada di Mola,Kalabahi. Sebelum naik ke Desa Manmas sejenak kami menikmati kue buatan mama desa. Perjalanan Kalabahi-Manmas ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam. Dari Manmas ke lokasi desa pertama yang akan disurvei kurang lebih juga 2 jam.

Medan berlumpur di pegunungan Alor

Medan berlumpur di pegunungan Alor

Panser melaju dengan lancar dari Kalabahi menuju Manmas. Lepas dari Manmas kami bergerak menuju Silaipui. Untuk menuju Silapui kami harus melewati jalan melewati bukit dan lembah yang terjal. Sampai ditengah perjalanan panser yang kami tumpangi terpaksa berhenti ditengah jalan. Ban depan panser sebelah kanan mengalami masalah. Mur dan bautnya mengendor sehingga ban nampak oleng. Sambil menunggu perbaikan maka kami memutuskan berjalan menuju desa. Selang 30 menit kemudian, panser sudah menyusul kami. Perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik panser menuju desa Silaipui.

Tak lama kemudian panser sudah sampai di desa. Kulihat didekat gereja, berdiri tenda dengan banyak masyarakat di dalamnya. Apakah sedang acara nikahan? Atau kedukaan? Atau acara adat kah?. Ternyata tenda dan masyarakat di dalamnya datang untuk menyambut kami. Sampai beginikah menyambut kami yang hanya sekedar survei?,”tanyaku dalam hati. Mulai dari anak-anak, pemuda sampai orang tua, semuanya berkumpul. Sambutan mereka begitu hangat dan penuh keceriaan.

Survei Lokasi PLTS di Desa Silaipui

Survei Lokasi PLTS di Desa Silaipui

Acara penyambutan ini diawali dengan sambutan oleh kepala dusun dan perwakilan patriot. Setelah sambutan sejenak kami menikmati hidangan yang sudah disiapkan warga desa. Tak berapa lama kami bergegas untuk meninjau calon lokasi PLTS yang telah dihibahkan oleh warga. Calon Lokasi PLTS tersebut ada di ujung desa. Dilihat dari kontur tanahnya relatif datar dan luas. Selain itu tidak ada potensi bayangan. Memang masih ada beberapa phon kemiri yang masih berdiri, namun warga sudah siap untuk menebang jika pembangunan akan dimulai. Dari calon lokasi PLTS, kami bergerak untuk menyusuri serta memvalidasi data-data rumah yang akan menerima listrik PLTS. Tak lupa kami memasang titik koordinat di ujung-ujung desa untuk mengetahui jarak terjauh dari lokasi PLTS.

MELANGLANGBUANA KE KALANGMANA

Dari Silaipui kami bergerak menuju ke Kalangmana. Untuk menuju Kalangmana panser harus mendaki naik bukit, turun lembah dengan jalan bebatuan. Sekitar 1,5 jam perjalanan kami sampai di sana. Nampak masyarakat dari sesepuh sampai anak muda sudah menunggu kedatangan kami. Bapak Son selaku tetua masyarakat memberikan sambutannya.

“Beginilah kondisi desa kami yang terpencil. Mas dan Mbak mungkin sudah merasakan bagaimana perjalanan dari Kota Kalabahai sampai di desa. Indonesia ini sudah 71 tahun merdeka, tapi kami belum bisa merasakan kemerdekaan, khususnya dalam akses listrik untuk desa kami”.

Kedatangan adik-adik ke sini menjadi harapan kami untuk bisa menjadi jembatan ke pemerintah di pusat sana untuk bisa lebih memperhatikan nasib kami. Seusai sambutan kami diajak menikmati sedikit hidangan dan minuman sebelum kami keliling desa untuk survei. Ditengah-tengah saya minum, Bapak desa Manmas berbisik,”Mas potong kambing dulu ya. Sontak saya kaget, kami datang hanya untuk survei biasa, tapi sambutan serta pelayanan kepada kami begitu istimewa.

Survei PLTS di Kalangmana

Survei PLTS di Kalangmana

Matahari sudah condong ke arah barat, kami bergegas untuk melakukan survei. Pertama-tama kami meninjau 2 calon lokasi PLTS yang sudah disiapkan warga. Lokasi pertama yang disediakan warga ada di lereng bukit. Mas, semua tanaman kemiri yang menghalangi pembangunan PLTS siap kami tebang. Tanah yang miring ini juga siap kami ratakan,”sambut bapak Son, tokoh masyarakat Kalangmana. Lokasi pertama kurang begitu bagus. Selain kemiringan tanah yang cukup terjal, bayangan bukit di dekat lokasi dikhawatirkan mengenai modul surya. Kami bergerak ke lokasi yang ke dua di sebelah barat dari lokasi pertama. Lokasi kedua lebih potensial. Selain datar, lokasinya matahari bisa menyinari sepanjang hari tanpa bayangan bukit disekitarnya. Akhirnya diputuskanlah lokasi ke dua sebagai calon lokasi PLTS. Dari Lokasi tersebut kami bergerak untuk mengukur jarak rumah terjauh serta mendata rumah-rumah yang akan menerima listrik PLTS.

Sampailah kami di salah satu ujung kampung. Dari kejauhan gemuruh sungai yang mengalir. Kami penasara dengan sungai tersebut. Bapak Son bercerita bahwa sulu pernaha da survei PLTMH, namun belum ada jejelasan sampai dengan saat ini. Perlahan kami menyusuri jalan setapat menuju sungai. Sampai di sana kami menyusur sungai lewat jalan kecil disepanjang pinggir sungai. Bulan ini masuk dalam musim kemarau, namun airnya masih terlihat deras. Kami hanya sempat mengambil gambar serta mencari daerah yang memiliki beda tinggi yang memungkinkan untuk dibangun PLTMH. Hari sudah mulai gelap, kami pun memutuskan untuk melakukan survei lagi setelah Hari Raya Idul Adha, berhubung masih ada dua lokasi lagi yang perlu kami datangi.

MENDAKI PEGUNUNGAN BERTABUR BINTANG

Medan Pegunungan di Alor Selatan

Daerah Pegunungan Alor Selatan yang menjadi lokasi survei PLTS dan PLTMH

Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Namun kami harus melanjutkan perjalanan menuju Langfatei. Aku ingat cerita warga  kalau lokasi langfatei ada di balik perbukitan sebelah selatan Kalangmana. Sambil mendongak tujuh puluh derajat dia menunjuk puncak pegnungan itu. Itu mas, daerahnya ada dibalik gunung itu, kita naik, putar-putar disitu baru turun. Jalannya berbatu dan terjal katanya. Siang-siang saja aku membayangkan sudah geleng-geleng, apalagi kita akan bergerak di malam hari. Sopir pun sebenarnya agak takut untuk ke sana, namun berhubung ada informasi bahwa warga telah menunggu kami sejak dari siang, jadi tidak enak kalau harus membuat mereka menunggu sampai besok pagi. Jadilah kami berangkat menuju Langfatei malam itu juga. Panser mulai mendaki pegunungan Alor selatan. Di awal-awal masih terasa nyaman, karena masih menelusuri jalan desa. Lambat laun kami mulai membelah hutan dengan batuan yang terjal. Suara Panser terdengar mengerang saat menanjak menuju puncak pegunungan. Belokan-belokan tajam berpadu dengan terjalnya jalan di malam hari memberi sensasi goyangan yang aduhai. Serasa naik wahana ontang anting kata Rista, Patriot yang bertugas diKelaisi. Di tengah gelapnya malam yang berpadu goyangan, sejenak kupandang langit malam. Woww, indah sekali kataku. Langit malam itu nampak cerah dengan taburan bintang. Nampak secercah guratan milky way yang turut menghiasi. Aku terhanyut dalam lamunan malam. Biarlah kami berjalan di tengah kegelapan di desa-desa ini, selagi masih ada bintang yang setia menemani malam-malam kami.

Mungkin begitulah perjuangan para pendiri negeri ini. Mereka berjuang di tengah sunyi dan kegelapan, tak perlu untuk dikenal, cukup ditemani cahaya putih yaitu bintang-bintang idealisme yang terus bercahaya”.

Ngikkkkk, suara panser mengerem di lereng pegunungan. Rupanya Panser yang kami tunggangi kelebihan beban. Malam itu Panser memuat sekitar 17 orang ditambah tas dengan beberapa karung semen. Akhirnya semen-semen itu kami turunkan di pinggir jalan. Sejenak sopir juga mengecek kondisi kendaraan. Rupanya dua mur dan baut di bagian dekat ban sudah rusak. Kalau semua rusak maka Panser tidak bisa jalan. Oke, kalau begitu kita naik sampai puncak di atas sana, kita tarus panser dipuncak baru kita jalan ke desa. Kalau kita paksakan bisa berbahaya untuk keselamatan kita. Selain itu kalau baut dan murnya rusak, maka panser gak bisa jalan, “seru Pak Desa. Akhirnya panser mendaki sampai puncak sambil mengerang-ngerang. Sampilah kami dipuncak pegunungan. Kami memilih berjalan kaki demi keselamatan. Beberapa tahun lalu sempat ada kunjungan bupati ke Langfatei. Ditengah jalan mobil yang ditumpangi bupati juga tidak kuat menanjak dan rusak. Enam bulan kemudian baru mobil itu dievakuasi dari jalan menuju Langfatei.

Bermodal satu senter dan layar HP kami berjalan pelan-pelan menuruni bukit. Nampak dari puncak kelap kelip cahaya di sekitar lembah. Aku kira itu lampu di desa. Setelah beberapa saat kami berjalan, ternyata kelap kelip cahaya tadi adalah gerombolan warga yang datang berjalan menaiki bukit untuk menjemput kami. Mereka membawa senter dan lampu sehen. Bahkan beberapa dari kami dituntun untuk menuruni jalan berbatu. Gedubrakkkk…., Lina salah satu teman kami terjatuh saat menuruni bukit. Meski sedikit sakit, tapi dia masih bisa meneruskan perjalanan.

Sambutan dari warga dan Bapa pendeta di daerah Langfatei

Sambutan dari warga dan Bapa pendeta di daerah Langfatei

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit sampilah kami di Langfatei. Nampak dari ujung desa warga sudah berjejer rapi di bawah tenda. Kami berjalan menyusuri jalan desa sampai di tenda yang telah disiapkan untuk menyambut kami. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang tua semuanya berjejer rapi menyalami kami. Sampai di pintu masuk tenda, seorang mama mengalungi kami kerajinan khas desa. Setelah itu baru kami dipersilakan duduk. Kami semua termenung bercampur kagum dengan sambutan warga desa. Yang kami lakukan ini baru survei dan pengusulan proposal yang mungkin akan dibangun mungkin beberapa tahun ke depan. Meski belum tahu kapan akan dibangun, namun kutatap satu persatau warga, mereka nampak optimis dengan harapan listrik masuk desa. Harapan itu juga terselip indah dalam rangkaian doa Bapak Pendeta.

Di sela-sela ramah tamah warga, seorang tokoh masyarakat menceritakan tentang seorang calon bupati yang sempat berkampanye di Langfatei. Dulu pernah ada calon bupati yang kampanye  di sini. Saya minta dia untuk taruh mobil di dekat  desa. Saya bilang, kalau jalan di desa tidak bisa dilewati mobil. Setelah sampai di desa, saya bilang ke Bapak calon bupati, maaf pak saya telah membohongi bapak. Sebenarnya Bapak bisa melewati jalan tadi dengan mobil. Saya ajak bapak jalan dikegelapan, supaya ketika bapak merasakan apa yang kami rasakan. Kalau Bapak pakai mobil, kampung ini akan terlihat terang oleh lampu mobil Bapak.

“Kampung kami gelap, cahaya yang kami nikmati datang dari Timor Leste yang ada di seberang pulau sana. Semoga ketika Bapak menjadi pemimpin nanti, selalu mengingat pesan ini. Begitulah cuplikan cerita tokoh desa yang syarat dengan makna”. Cerita tadi menutup malam kami di Langfatei.

Lagi-lagi aku dibuat kagum dengan pendeta di desa-desa. Tanah yang menjadi lokasi PLTS di kampung ini ternyata milik Bapak pendeta. Meski ada beberapa pohon jati yang tumbuh, namun bapak pendeta dengan ikhlas untuk menyerahkan tanamannya demi listrik bagi masyarakat desa. Seperti survei sebelumnya, kami melihat calon lokasi PLTS kemudian mendata rumah-rumah yang akan menerima manfaat listrik. Menjelang siang hari survei yang kami lakukan sudah selesai.

Pamitan tim patriot dengan warga langfatei

Pamitan tim patriot dengan warga langfatei

Matahari siang mengiringi kepergian kami dari desa langfatei. Untuk menuju lokasi panser di atas bukit kami harus berjalan memotong bukit terjal.  Jalannya mengingatkan kami pada momen-momen pelatihan survival dengan wanadri beberapa bulan yang lalu. Dengan wajah berlumur keringat, Ais dan Lina nampak berjuang dengan penuh semnagat menaiki bukit. Mbak Ais masih kuat gak?’”tanya Lina. Harus kuat dong, kalau gak kuat siapa yang gendong,hhe,” jawab Ais. Jalan terjal, berdebu berpadu sengatan matahari siang menjadi kombinasi sempurna untuk menguras keringat. Menuju puncak bukit, mulai terlihat Timor Leste di seberang lautan. Perlahan kami terus menanjak bukit sampai di puncak. Akhirnya bukit tempat panser parkir berhasil kami daki. Kami beristirahat sejenak sebelum menuju desa terkhir yang akan kami survei.

AYAM JANTAN DARI BOLOLOMAN

Hari sudah mulai siang, panser kami bergerak menuju kampung Bololoman. Kampung ini berada di atas bukit bebatuan yang terjal. Untuk meuju kampung ini panser harus melewati jalanan perbukitan yang diapit jurang-jurang yang dalam. Perjalanan yang seru dan mendebarkan. Untungnya Om Manto, sopir kami sudah khatam dengan medan pegungan di Alor.

Sekitar 45 menit sampailah kami di kampung Bololoman. Kami langsung menuju rumah saudara dari bapak desa. Di sana kami membicarakan rencana lokasi PLTS, jalur kabel sekaligus jumlah warga yang akan dialiri listrik. Selanjutnya kami segera melakukan surve

Nemu adik-adik lucu pas survei di kampung Bololoman

Nemu adik-adik lucu pas survei di kampung Bololoman

Sekitar 2 jam kami melakukan survei di kampung bololoman. Kampung ini tidak begitu besar dan bentuknya memanjang, sehingga bisa dengan cepat kami survei. Usai survei kami kembali ke rumah untuk makan siang. Kami makan siang dengan lahap, karena tenaga kami cukup terkuras sejak menaiki bukit di desa sebelumnya.

Matahari sudah mulai bergerak ke arah barat, kami pun pamit dengan warga kampung Bololoman. Sebelum pulang kami dapat hadiah ayam jantan dari warga. Dengan senang hati ayam tersebut kami terima. Lumayan bisa buat lauk pas sampai di basecamp kami nanti, hhe. Tak hanya ayam, warga juga ada yang memberikan kelapa dan aneka makanan. Merekan sangat berterimakasih karena sudah diusahakan agar kampungnya bisa mendapatkan akses listrik.

Panser kami meluncur menuju kota Kalabahi. Rasa lelah bercampur bahagia beradu menjadi satu. Meski lelah, kami bangga bisa mengunjungi kampung-kampung di pelosok desa di Alor Selatan. Semoga usaha kami bersama bisa membuat kampung mereka lebih terang. Aaamiin.

Share this :

1 Comment

  1. Inspiratif, terus berkarya, berjuanglah menyinari bumi pertiwi. Tak perlu namamu terpampang di media cetak, cukup baktimu yang terpatri di hati warga Alor. Semoga segenap ikhtiarmu bersama teman seperjuangan diijabah Allah SWT. Keikhlasanmulah yang akan memuluskan segenap ikhtiarmu kawan. Tak perlu menjadi manusia berdasi dengan segala fasilitas mewah berkantor di gedung-gedung tinggi memakai barang-barang branded tuk dihormati orang. Karena seyogyanya kebermanfaatanmu itulah yang membuatmu dihormati orang lain.

    “Karena sebaik-baik manusia adalah manusi yang bermanfaat bagi banyak orang.”

    Tetap berjuang sobat!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2018 Madina's Family

Theme by Anders NorenUp ↑