Kabupaten Buru merupakan salah satu daerah di Maluku dengan potensi kelautan melimpah. Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buru menunjukkan adanya peningkatan produksi hasil kelautan dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Tahun 2012 produksi hasil kelautan sebesar 5851,30 ton dan terus meningkat sampai 24.624,010  ton di tahun 2014. Salah satu potensi kelautan yang ada di Pulau Buru adalah rumput Laut. Potensi rumput laut yang ada di Pulau Buru belum digarap secara maksimal. Rumput laut yang ada selama ini masih di jual mentah kepada para pengepul.

          Untuk meningkatkan nilai tambah dari rumput laut maka diperlukan upaya diversifikasi produk hasil olahan rumput laut. Berkaitan dengan hal tersebut, Kementrian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah mengadakan pelatihan pengolahan rumput laut bagi empat kelompok usaha yang ada di Kabupaten Buru. Pelatihan tersebut diselenggarakan pada tanggal 10-14 April 2017 bertempat di Hotel Awista. Dalam acara tersebut saya turut serta sebagai salah satu fasilitator pelatihan. Lebih tepatnya saya jadi asisten Prof.Dr Linawati Hardjito. Beliau adalah ahli bioteknologi kelautan yang bekerja sebagai peneliti dan staf pengajar di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

         Kegiatan pengolahan rumput laut ini diisi beberapa kegiatan seperti survei potensi daerah penghasil rumput laut, praktek pembuatan olahan pangan berbahan dasar rumput laut, analisa ekonomi usaha, penjelasan akses kredit usaha, serta motivasi kewirausahaan. Kegiatan survei rumput laut dilakukan di daerah  Jamila dan Saliong. Dalam kegiatan survei ini dilakukan pengambilan sampel rumput laut untuk dianalisa kualitasnya. Selain pengambilan sampel, tim juga melakukan dialog untuk menggali permasalahan dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi petani rumput laut.

Proses pembuatan mie dari rumput laut

Proses pembuatan mie dari rumput laut

       Kegiatan utama dari pelatihan ini adalah pelatihan pembuatan produk olahan makanan dari rumput laut. Peserta yang terdiri dari empat kelompok usaha dilatih untuk membuat olahan rumput laut menjadi bakso, mie, jelly, sirup, dan minuman siap saji. Hari pertama peserta diajarkan untuk membuat bakso dan mie rumput laut. Ibu Frida, salah satu peserta pelatihan menuturkan bahwa olahan bakso dengan campuran rumput laut terasa lebih kenyal. Selain itu kualitas baksonya sangat bagus, karna ketika uji lipat tidak mudah patah. Ibu Syamsiyah dari kelompok usaha Cottoni Fresh juga merasakan bahwa produk mie dengan campuran rumput laut memiliki kualitas yang baik. Mie dari rumput laut terasa lebih kenyal dari mie pada umumnya.

IMG_0683-768x576

Proses pembuatan jelly rumput laut

     Hari berikutnya para peserta juga diajarkan membuat sirup, jelly dan minuman siap saji dengan campuran rumput laut. Rumput laut untuk membuat olahan makanan tersebut bisa dari tepung rumput laut atau rumput laut yang telah diolah menjadi Alkali Treated Cottoni (ATC). Hasil olahan rumput laut tersebut selanjutnya dikemas dalam kemasan yang telah disediakan. Peserta diajarkan cara mengemas yang baik serta membuat label kemasan yang sesuai standar produk makanan.

Produk olahan rumput laut karya ibu-ibu Pulau Buru

Produk olahan rumput laut karya ibu-ibu Pulau Buru

         Pelatihan untuk kelompok usaha berbasis rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan ibu-ibu dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Dinas Perindustrian Kabupaten Buru sangat mendukung kegiatan ini. Kami siap untuk menjaga keberlanjutan program UKM dengan memberikan pembinaan dan sarana promosi, “demikian tambahan dari Ibu Iba selaku Kepala Bidang Industri.

Share this :