Bagaimana ya, rasanya menjadi minoritas ? Menjadi Muslim seorang diri di tengah umat kristiani yang tinggal di pelosok desa terpencil. Bagaimana membangun kolaborasi dengan masyarakat yang berbeda beda suku, bahasa, maupun adat istiadat ?

Tahun 2015-2016 aku mengikuti Program Patriot Energi yang diselenggarakan oleh Kementrian ESDM. Aku bertugas di Kabupaten Alor bersama 11 orang teman. Kami tersebar di dua pulau : Pulau Alor dan Pulau Pantar. Selain bertugas mendampingi pembangunan sarana PLTS di desa-desa terpencil, kami bersama dengan masyarakat desa berupaya membuat kegiatan ekonomi produktif dari pemanfaatan listrik desa. Kegiatan ekonomi tersebut dibuat berdasarkan potensi sumber daya alam yang ada di masing-masing desa. Selama 11 bulan, aku ditugaskan di Desa Manmas, Kecamatan Alor Selatan. Desa ini terletak di daerah pegunungan yang cukup terjal. Meski daerah ini susah air di musim kemarau, berbagai macam tanaman tumbuh subur di desa ini. Tanaman kemiri dan pohon ampupu banyak sekali tumbuh di kebun dan hutan-hutan adat milik masyarakat desa. Ada juga kopi, vanili, singkong, ubi, pisang, padi ladang serta jagung.

Pemandangan daerah pegunungan di Alor yang hijau

Pemandangan daerah pegunungan di Alor yang hijau

Masuknya listrik ke desa menjadi peluang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Harapannya sih begitu. Kenyataan di lapangan kadang tidak sesuai harapan. Listrik PLTS yang dibangun di desa disertai juga dengan bantuan televisi. Persoalan muncul ketika televisi sudah dipasang di dekat balai desa. Hampir setiap malam anak-anak sudah parkir di depan televisi. Sinetron adalah konsumsi favorit warga desa. Bersama sinetron hadirlah iklan-iklan yang tak kalah seru untuk dinikmati. Apalagi iklan partai Perind*. Perindang Maksudnya. Hmmm, saya jadi khawatir anak-anak desa menjadi lebih hafal mars perindang daripada lagu Indonesia raya. Atau jangan-jangan mereka mengira, Mars Perindang adalah salah satu lagu Sedunia. Selamat Om HT cuci otak anda cukup berhasil kali ini.

Kekhawatiranku akan bahaya laten Mars Perindang, sinetron maksudku, membuatku berpikir untuk bagaimana caranya listrik desa ini bisa lebih berfaedah dari sekedar sinetron si boy atau bahkan FTV SCTV. FTV yang berkisah antara pemuda yang serba kekurangan, berprofesi yang dianggap rendahan (oleh sebagain orang) tapi baik nan ganteng bertemu pemudi dari kota yang gahull gituh. Yang jatuh cinta dalam hitungan sepersekian detik. Dilanjut dengan hubungan yang tidak direstui orang tua. Namun berakhir dengan bahagia. Defaultnya gitu aja, tapi ya masih aja tetep ditonton. Termasuk saya sih hhha. Habis kalau mayoritas penonton pengen nonton sinetron apa bisa dikata.

Sepaya warga desa, terutama mama-mama, lebih produktif (selain produktif dalam hal keturunan), maka listrik desa harus digunakan untuk kegiatan usaha. Listrik desa ini memang luar biasa. Selain menerangi rumah, meningkatkan ekonomi produktif, saya mensinyalir listrik desa adalah salah satu jalan untuk program Keluarga Berencana (KB). Dulu ketika masih gelap hiburannya mungkin “itu-itu” saja. Sekarang setelah ada listrik malam bisa nonton TV atau berkegiatan lainnya, sehingga kegiatan yang “itu-itu” bisa berkurang. Dengan berkurangnya intensitas  hiuran yang “itu-itu” dari mama dan bapak, maka jumlah keturunan diprediksi bisa berkurang pula. Hha, anaslis sok tahu aja sih.

Mama-mama sedang membuat keripik dengan campuran wortel

Mama-mama sedang membuat keripik dengan campuran wortel

Demi mama-mama yang lebih produktif, maka kami mengadakan serangkain pelatihan pengolahan bahan pangan lokal. Pelatihan mulai dari cara mengolah, mengemas sampai memasarkan. Selain dipasarkan di sekolah-sekolah dan pasar, produk dari mama-mama ini dibawa juga ke pameran-pameran produk desa. Pernah sebelumnya kami pamerkan dalam kegiatan Alor Expo. Kali ini hasil produk yang dibuat mama-mama desa tempat kami tinggal akan dipamerkan dalam peringatan Hari Pangan Sedunia di Kecamatan Bukapiting pada tanggal 12 sampi 19 Oktober 2016. Informasi tentang peringatan Hari Pangan Sedunia ini kami peroleh dari Lina, salah satu teman kami yang bertugas di Desa Mainang. Pada waktu itu Lina mendapatkan informasi dari Kepala Dinas Pertanian Alor yang sedang berkunjung ke Desa Mainang. Dari pihak Dinas Pertanian Alor kami mendapatkan kontak ketua panitia. Setelah kami gali informasi lebih dalam, acara Hari Pangan Sedunia ini diselenggaran oleh kumpulan jemaat Katolik dari Keuskupan Agung Kupang. Pada awalnya kami mengira acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Alor. Meski kami Muslim dan membawa produk dari mama-mama desa desa yang beragama Kristen, panitia dengan senang hati menerima kami. Setelah mendapatkan ijin untuk bisa ikut pameran produk pangan, kami meninjau lokasi guna mengecek fasilitas dan menyiapkan dekorasi.

Warga desa Manmas sedang membuat keripik  aneka rasa dari singkong

Warga desa Manmas sedang membuat keripik aneka rasa dari singkong

Tim kami berangkat menuju lokasi pameran pangan di Lapangan Bukapiting. Saya bersama Lina dan Irma menumpang rombongan Jemaat Katolik dari tetangga desa Mainang. Sampai di lokasi pameran kami disambut oleh panitia yang mengurus akomodasi peserta pameran. Di sana kami diberikan informasi rumah-rumah yang akan menjadi tempat kami menginap untuk beberapa hari ke depan. Hari sudah sore dan kami akan melaksanakan solat ashar. Kami meminta ijin kepada pemilik rumah untuk melaksanakan shalat ashar. Pemilik rumah menyiapkan kamar terbaik sebagai tempat solat kami. Di saat kami shalat, pemilik rumah pun mengajak kelurganya untuk bicara lebih pelan guna menghormati kami yang akan melaksanakan shalat.

Malam itu akan ada  pembukaan acara Hari Pangan Sedunia. Bupati, jajaran pimpinan DPRD, tokoh masyarakat Alor dan para pastor akan meninjau stand-stand pameran . Kami bergegas menuju lapangan guna menyiapakan dekorasi serta produk-produk untuk dipamerkan. Berbagai produk pangan kami bawa dari desa-desa tempat kami bertugas. Produk pangan yang kami bawa seperti keripik singkong, keripik ubi, botok, sambal pisang-kacang, aneka kue berbahan bahan lokal, stik labu, dendeng jantung pisang, kopi serta produk-produk holtikultura.

Hari sudah mulai gelap, lapangan mulai dipadati para pengunjung stand. Aku dan teman-teman juga menyempatkan untuk berkunjung ke stand-stand lainnya. Saat berkeliling stand aku banyak dibuat kagum oleh para peserta pameran, terutama para suster dan pastor. Suster dan pastor katolik ternyata tidak hanya membimbing umat dalam ibadah, tetapi memiliki peran penting dalam ketahanan pangan bagi jemaatnya. Para suster dan pastor mengajak jemaatnya untuk menanam tanaman pangan guna mencukupi kebutuhan keluarga. Tidak hanya sekedar mengajak, tetapi juga turun langsung dan mencontohkan cara bercocok tanam yang baik. Aku lihat juga foto seorang suster dari Swiss yang ikut andil dalam mengajarkan bertanam sayuran dalam suatu jamaat gereja katolik di Alor. Beberapa gereja Katolik di Alor memang memiliki Kebun Gereja. Kebun gereja ini sebagai sarana edukasi bercocok tanam kepada jemaat, sekaligus menjadi pendukung kemandirian keuangan gereja.

Pembukaan Hari Pangan Sedunia (foto : Teropong Alor)

Pembukaan Hari Pangan Sedunia (foto : Teropong Alor)

Setelah puas berkeliling, kami kembali lagi ke stand kami sekaligus menyambut pengunjung yang mampir. Di tengah menjaga stand, bapak ketua panitia acara mengajak kami untuk makan malam. Empat  orang dari kami bergegas untuk makan malam dan sisanya bertugas menjaga stand. Panitia dari jemaat Katolik yang bertugas di bagian konsumsi melayani kami dengan sangat baik. Setiap kali kami makan mereka akan mengarahkan kepda kami makanan-makan yang bisa dimakan oleh kaum muslim. Mereka paham bahwa kami tidak makan daging babi atau daging yang tidak disembelih oleh orang muslim sendiri. Terus terang saya begitu tersentuh dengan pelayanan saudara-saudara kami yang beragama Katolik ini.

Usai makan malam kami bergegas kembali ke stand. Acara pembukaan sudah dimulai. Para tamu undangan sudah memenuhi kursi-kursi di area pembukaan. Sambutan demi sambutan meramikan acara pembukaan pada malam itu.  Dalam sambutannya Drs.Amon Djobo, selaku bupati Alor mengucapkan terimakasih kepada Uskup Agung Kupang yang telah menempatkan para pastor muda yang energik serta penuh motivasi untuk menggerakkan umat yang ada di gunung-gunung dan lembah-lembah dalam memajukan daerah. Berikutnya Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang dalam sambutannya mengatakan bahwa Gereja Katolik mengambil peran setiap tahunnya dalam Hari Pangan Dunia. Yang paling utama dalam gereja Katolik adalah kesadaran-kesadaran dari orang-orang yang menyebut murid-murid Kristus untuk membangun satu dunia di mana mereka membangun sahabat-sahabat dan diantara sahabat-sahabat itu tidak ada yang kekurangan pangan.

Beberapa contoh produk dari mama-mama desa yang didampingi oleh Tim Patriot Energi

Beberapa contoh produk dari mama-mama desa yang didampingi oleh Tim Patriot Energi

Acara pembukaan telah usai, kini para tamu undangan berkeliling untuk mengunjungi stand-stand pemeran. Kami turut gembira karena cukup banyak tamu undangan yang mengunjungi stand kami. Tak terkecuali Bapak Bupati Alor, pejabat DPRD serta tokoh-tokoh masyrakat Alor. Bapak Bupati dan pejabat lainnnya juag memborong produk yang kami pamerkan. Haripun semakin malam, namun pengunjung masih tetap ramai karena masih ada acara hiburan. Menjelang tengah malam kami menutup stand kami lalu pulang untuk beristirahat.

Hari berikutnya acara pameran masih berlanjut dan selalu ramai, terutama di malam hari. Selain pameran hasil pangan, ada juga acara seminar dan pelatihan terkait pengolahan pangan lokal dan pertanian. Terdapat pelatihan pembuatan pupuk organik, inovasi pangan-panggan lokal, serta praktek langsung untuk mengolah lahan pertanian. Selama 5 hari acara yang kami ikuti berlangsung lancar dan meriah. Banyak pelajaran-pelajaran yang kami ambil dari kegiatan ini. Soal toleransi, pelayanan geraja, dan keramahan masyarakat alor. Semoga kerukunan umat beragama di Alor terus terjaga. Agama kami memang berbeda-beda, namun itu bukan batasan untuk berbuat baik bersama-sama”.

 

Share this :