Berbagai Pertanyaan Seputar Menikah

Beberapa teman menanyakan seputar menikah setelah saya menyandang status baru. Senang rasanya bisa menjadi teman diskusi bagi teman-teman yang juga akan melepas masa lajangnya. Rasanya sayang jika tidak dituliskan di blog ini untuk berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Pertanyaan dibawah merupakan rangkuman dari beberapa teman yang sudah di konfirmasi untuk saya publikasikan. Semoga bermanfaat.

Khawatir masalah finansial setelah menikah.

Wajar jika punya ke khawatiran seperti itu. Memang sebelum menikah masalah finansial perlu dipikirkan. setidaknya kamu dan calon sudah ada rencana bakal melakukan apa paska menikah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kalau sudah ada gambaran bakal dapat pemasukan dari mana ya berarti sudah aman. Apalagi Allah sudah berjanji,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin maka Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui. ‘’ (Qs. An-Nur [24] :32)

Ini jadi penguat bahwa ketika Allah menyuruh hambanya melakukan sesuatu pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Cuma ya bukan berarti tanpa ada perencanaan dan persiapan serta ikhtiar. Harus ada usaha menjemput rejeki dari Allah dengan sebaik-baik cara.

Bagaimana jika ingin menikah namun tabungan belum mencukupi? Sedangkan orang tua ingin ketika menikah dirayakan dengan pesta.

Nah ini yang biasanya menjadi berat, keinginan orang tua. Berarti disesuaikan dengan kemampuan finansial kamu saat ini. Tidak perlu nggoyo, semampunya seumpama ingin menikah dalam waktu dekat ini. Ajak orang tua diskusi secara terbuka. Bahas semuanya dari kondisi keluarga, kalau ingin merayakan dengan pesta maka harus dirancang bersama agar berjalan dengan baik. Dan sebisa mungkin tidak menjadi tanggungan di belakang. Menikah adalah bagian dari ibadah, kalau bisa disegerakan ya disegerakan. Insyaallah niat baik akan dan jalannya. Paling penting SAH sebagai suami istri. Selanjutnya menyiapkan diri untuk tantangan-tantangan baru setelah berumah tangga.

Ketika ingin menikah kemarin, aku juga tidak punya banyak tabungan. Sebenarmya sedari masih SMA sudah melobby orang tua kalau menikah kelak di pestakan. Akad nikah di KUA pun tidak masalah. Alasan utamanya tidak mau membebani orang tua dari segi pikiran, tenaga dan biaya. Ditambah aku anak bungsu jadi orang tua juga sudah memasuki usia-usia lansia. Lagipula dijaman millenial ini (cailah) banyak anak muda yang lebih memikirkan esensi bukan lagi simbol. Tapi orang tua tetap ingin digelar resepsi pernikahan jadi ya sudahlah mengiyakan dengan beberapa persyaratan yang intinya konsep walimahnya sederhana.

Orang tua ingin setelah menikah suami ikut tinggal bersama keluargaku karena anak tunggal

Tentang keinginan agar suami nanti bisa ikut kamu tinggalnya ya dikomunikasikan sedari awal. Sebelum membahas antara calon suami dan orang tua, sebaiknya disampaikan dulu kepada calon. Agar kita tahu bagaimana calon suami menanggapi keinginan dari keluargamu. Ini penting karena menyangkut rencana masa depan. Kenapa didiskusikan terlebih dahulu diantara kalian berdua, supaya kalau ternyata ada perbedaan keinginan bisa dicari jalan keluarnya bersama. Salah satu cara memuluskan proses meminta ijin kepada orang tua perempuan.

Sama seperti aku, keluarga menginginkan kelak tinggal di rumah orang tuaku. Dari awal proses mengenali calon pasangan sudah aku sampaikan. Bahwa aku anak bungsu yang diharapkan menjadi pengayom orang tua dimasa tuanya. Suamiku juga anak bungsu yang menjadi pengayom orang tua. Jadi gimana ni? Ya akhirnya kami bersepakatan untuk sama-sama menjadi penanggung jawab orang tua, baik orang tuaku juga orang tua suami. Pada akhirnya suami dan keluarganya menyetujui permintaan dari keluargaku pada saat proses lamaran berlangsung. Alhamdulillahnya lagi dimudahkan dengan jarak Jogja-Karanganyar yang tidak begitu jauh sehingga bisa memantau atau mendampingi orang tua bergantian.

Bagaimana perasaan setelah menikah?

Perasaannya lebih tenang. Di minggu awal rasanya masih tidak percaya. Ada seseorang yang sangat dekat dengan kita. Dekatnya itu menimbulkan rasa tentram, aman dan nyaman. Nah tapi ya itu, ada tanggung jawab baru. Makanya perlu banget sebelum menikah belajar cara menjadi istri yang baik.

Setelah menikah apakah rejeki semakin bertambah?

Banyak bentuk rejeki yang didapatkan setelah menikah. Tidak melulu berbentuk materi, kemudahan-kemudahan yang didapatkan dalam hal apapun juga termasuk rejeki. Dan kalau menurutku, Allah telah mengatur rejeki setiap makhluknya, saat menikah ya rejeki kedua orang akan menjadi satu dan bisa bertambah. Cuma masalah pintu datangnya rejeki saja yang mungkin berubah. Rejeki bagi yang sudah berkeluarga bisa lewat suami, istri atau dari keduanya. Nanti kalau sudah punya anak rejeki akan semakin bertambah karena rejeki si anak lewat orang tua.

Saat ini aku belum mulai bekerja lagi karena masih menyesuaikan dengan suami yang harus bekerja di lapangan. Dan aku merasa cukup dengan apa yang kami dapatkan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kuncinya menerima pemberian suami dengan syukur, Insha Allah semuanya menjadi berkah. Nah berkah itu maksudnya bukan tentang seberapa banyak, tapi dengan kondisi yang ada dapat mencukupi kebutuhan. Ada rizki yang datangnya kadang tidak disangka-sangka. Sebelumnya kami belum tahu bagaimana tempat kami setelah kami menikah dan bagaimana memenuhi kebutuhan peralatan rumah tangga. Atas ijin Allah  kami mendapatkan tempat tinggal sementara dan beberapa  fasilitas rumah dari pimpinan perusahaan tempat suami bekerja, mendapat peralatan masak dari kakak dan orang tua, mendapat peralatan rumah tangga dari teman-teman. Tempat kerja suami yang dekat dengan rumah dan bisa ditempuh dengan bersepeda, sehingga tidak mengeluarkan biaya transportasi.  Semuanya tidak berbentuk uang namun dengan itu semua kami tidak perlu mengeluarkan uang ekstra. Itu contoh rejeki yang kami dapatkan setelah menikah, kalau kami belum menikah belum tentu mendapatkan itu semua.

Bagaimana hubungan dengan mertua?

Alhamdulillah mertua sangat baik. Sebisa mungkin menempatkan mertua sebagaimana orang tua kita sendiri. Tentu tidak serta merta mengalir begitu saja. Harus ada usaha, salah satunya belajar dari suami bagaimana bersikap dan memperlakukan orang tua baru kita. Selain itu, berusaha untuk tidak membuat mertua (khususnya mertua perempuan) merasa kehilangan sosok anak laki-lakinya setelah menikah. Aku meyakini bahwa laki-laki punya tanggung jawab terhadap ibunya. Jadi sebagai istri harus paham kalau suami kita masih berkewajiban terhadap ibunya. Apapun, ketika Ibu membutuhkan anak laki-lakinya ya sebagai istri harus mendukung suami memenuhi hak-hak ibunya. Namun tetap tentang rumah tangga menjadi urusan suami istri itu sendiri, kalau orang tua maupun mertua ingin ikut andil mengatur ya perlu kelegowoan hati menangani dan komunikasi yang baik antara suami-istri mencari jalan keluar terbaik. Jadi jelas peran kita sebagai anak bagi orang tua dan mertua dan sebagai suami/istri bagi kehidupan rumah tangga.

Istri sholihah versi kamu apa?

Rasulullah berkata,

“Jika seorang wanita menjalankan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya; “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad 1:191 dan Ibnu Hibban 9:471)

Lalu di hadis yang lain, pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW,

“Siapakan wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati, suami jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nassai no. 3231 dan Ahmad 2:251)

Serta, dari Ummu Salamah ra. Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854)

Dari hadis-hadis itu aku belajar beberapa poin :

  1. Paham bahwa ridho suami segalanya. Apapun tanpa ke ridhoan suami akan sia-sia. Ini aplikasinya macam-macam pasangan bisa berbeda. Tergantung gaya komunikasi antar suami-istri. Ini penting, contohnya aku yang selama 25 tahun hidup dengan keluargaku. Kemudian menikah dengan laki-laki yang belum tau bagaimana kehidupanku sebelumnya. Yang biasa mandiri, bisa memutuskan ini itu sendiri, bisa memilih melakukan ini itu. Kemudian ada suami yang punya hak penuh atas diri. Jadi sama-sama harus menurunkan ego.
  2. Ketika dipandang menetramkan dan menyejukkan. Cuma kembali lagi tergantung makna menentramkan dan menyejukkan versi suami seperti apa. Bukan sebatas tentang lahiriah, ada komponen-komponen batiniah yang berpengaruh terhadap konsep teduh dan tentram. Balik lagi tentang komunikasi. Apa saja yang diinginkan dari suami terhadap kita, dan begitupula sebaliknya.
  3. Menerima pemberian suami dengan bersyukur dan tidak menuntut melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh suami
  4. Sering minta maaf kepada suami dan mohon ampun kepada Allah walau tidak selalu merasa dalam posisi bersalah. Aku sering terpikirkan tentang di neraka paling banyak penghuninya adalah perempuan. Nah ini perlu evaluasi diri masing-masing. Kadang hal kecil yang lumrah kita lakukan bisa jadi pemberat dosa. Apalagi kalau berbuat salah kepada suami namun tida menyadarinya. Seperti menabung dosa tanpa sadar, kan serem. Makanya sering-sering minta maaf sama suami dan mohon ampun sama Allah. Bisa jadi tanpa sadar melakukan perbuatan yang suami tidak berkenan. Berhubung suaminya baik ya sudah dimaklumi, tapi urusan dosa kan sama Allah. Suami memberikan pemakluman, tapi Allah tetap mencatatnya sebagai perbuatan dosa. Jadi sadar atau tidak melakukan perbuatan yang salah sebaiknya sering-sering minta maaf sama suami dan mohon ampunan sama Allah.
  5. Berusaha menjaga sakinah dalam keluarga. Ada kisah Asiyah istri Fir’aun yang selalu jadi penyemangat. Dia tau betapa jahat suaminya, tapi Asiyah tetap berusaha menjadi istri yang baik. Mencoba menjaga sakinah dalam keluarganya. Dan apa imbalannya? Allah janjikan surga untuknya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadi istri yang baik bagaimanapun keadaan suami. Nah untuk case aku yang insyaallah mempunyai suami yang amat sangat baik, masa iya tidak mau menjaga sakinah dalam keluarga dengan berusaha menjalankan tugas-tugas istri dengan baik. Itu salah satu yang jadi.

Itu sedikit cerita berbagi dengan teman-teman. Semoga menjadi penyemangat untuk yang akan menjalani fase kehidupan baru sekaligus sebagai pengingat bagi diri sendiri untuk selalu berusaha menjadi sebaik-baik istri. Dan mohon dipahami jawaban-jawaban diatas pendapat pribadi yang masih dalam keterbatasan ilmu, jadi apabila ada hal-hal yang kurang sesuai feel free untuk menasehati saya. Ditunggu 🙂

Dramaga, 3 Agustus 2017

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *