Mengunjungi Al Quran Tertua Se-Asia Tenggara di Pulau Mayoritas Kristen

                Surga di Timur Matahari. Begitulah sebutan untuk pulau cantik di Nusa tenggara Timur. Selain keelokan alam dan budayanya, pulau ini  juga menawarkan indahnya toleransi beragama. Masyarakat pesisir Pulau Alor mayoritas beragama Islam, sedangkan daerah pegunungan didominasi oleh penduduk beragama Kristen Protestan dan Katolik. Meski berbeda secara agama, mereka hidup rukun dalam hubungan adat dan darah.

Pemandangan di tepi jalan menuju lokasi Al-Quran tua
Pemandangan di tepi jalan menuju lokasi Al-Quran Tua

                Kebaragaman agama di Alor sangat menarik untuk ditelusuri. Kali ini saya tertarik untuk menelusuri sejarah awal masuknya Islam di Pulau Alor. Di tahun 2016 saya bersama teman-teman kerja di Patriot Energi mengunjungi lokasi penyimpanan Al-Quran tertua di Asia Tenggara. Tempatnya penyimpanan tersebut ada di  Desa Lerabaing, Alor Besar. Sekitar  21 km ke arah barat daya kota Kalabahi. Untuk menuju ke sana, bisa jalan kaki. Gempor sih. Bisa juga naik ojek, angkot atau kendaraan pribadi. Kalau  mau naik angkot, pilih angkot yang warnanya biru yang jurusan ke arah Alor Besar. Naiknya bisa dari pasar kadelang, pasar terbakar (ini beberan namanya gini lho), atau mereka biasa ngetem di sebelah selatan Lapangan kalabahi dekat arah pelabuhan petikemas. Kurang lebih bayar 10 ribu sampai lokasi. Jalan ke sana udah beraspal sehingga cukup nyaman untuk berkendara. Perjalanan menuju lokasi, akan banyak disuguhi pemandangan pantai dan perbukitan yang menawan.

Sejarah Al Quran dan Jejak masuknya Agama Islam di Alor

Riwayat Al-Quran Kulit kayu (foto oleh : Rista Amalia, Patriot Energi)
Riwayat Al-Quran Kulit kayu (foto oleh : Rista Amalia, Patriot Energi)

                Sampai di lokasi kami disambut oleh Bapak Nurdin Gogo. Beliau adalah keturunan ke-14 dari lang Gogo yang menjaga Al-Quran warisan dari nenek moyangnya. Menurut penuturan beliau, Al-Quran ini dibawa oleh Iang Gogo, penyebar agama Islam yang berasal dari Ternate, Maluku Utara. Iang Gogo bersama empat saudaranya (ilyas, Djou dan Kimales) merantau menyebarkan ajaran Islam ke wilayah timur Indonesia di masa kesultanan Babullah ke V. Al-Quran ini dibawa sekitar tahun 1518 dan masih cukup utuh hingga saat ini. Tempat penyimpanan Al-Quran ini berdampingan dengan masjid Baabusholah. Masjid tua ini dibangun pada tahun 1633 Masehi. Al-Quran dan Masjid tersebut menjadi bukti awal masuknya Islam di Pulau Alor.

Masjid Babushalam (foto oleh : Suli Indriya, Patriot Enrgi)
Masjid Babushalam (foto oleh : Suli Indriya, Patriot Energi)

                Daerah pesisir pulau Alor dan pulau-pulau kecil sekitarnya di dominasi oleh umat beragama Islam. Hal ini tidak terlepas dari dakwah agama Islam yang lekat dengan perdagangan dan interaksi dengan masyarakat pesisir pada jaman itu. Sementara itu agama non-Islam seperti Kristen Protestan masuk ke Pulau Alor pada awal 1900-an. Penyebarannya lebih banyak ke daerah pedalaman dan pegunungan.

Bentukan fisik Al Quran

Bentukan Al-Quran dari kulit kayu (foto oleh : Rista Amalia. Patriot Energi)
Bentukan Al-Quran dari kulit kayu (foto oleh : Rista Amalia. Patriot Energi)

                Al-Quran ini terbuat dari kulit kayu. Kalu dilihat-lihat seperti kertas kayu tersebut seperti kertas papirus. Tinta yang digunakan untuk menulis berwarna hitam dan merah. Untuk jenis tintanya belum diketahui apa bahan pembuatnya. Pak Nurdin mengatakan bahwa ada beberapa yang sudah datang meneliti namun belum mengetahui bagaimana hasil penelitian tersebut. Meskipun usianya sudah ratusan tahun, isi Al-quran tersebut masih utuh. Di dalamnya berisi 30 juz dan 114 surat. Tulisan dalam Al Quran tersebut juga masih bisa dibaca dengan jelas.

Selamat dari Kebakaran

Sekitar tahun 1982 pondok tempat menyimpan Al-Quran ini terbakar. Api dari kebakaran menghanguskan berbagai peninggalan leluhur. Namun Al-Quran tua peninggalan nenek moyang pak Nurdin masih selamat dari kebakaran. Hingga saat ini pak Nurdin dan keluarga terus berusaha menjaga keberadaan Al-Quran Tua tersebut. Hingga saat ini belum ada rencana dari pemerintah daerah atau pusat untuk memindahkan Al-Quran tersebut di tempat tertentu. Untuk menjaga keberadaan Al-Quran itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Alor menetapkan lokasi rumah penyimpanan Alquran sebagai situs bersejarah yang dilindungi oleh Undang-Undang No.5 tahun 1992.

               

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *