Menelusuri Jejak-jejak Ketahanan Pangan Masyarakat Pegunungan Alor

“Biarkan orang Papua mandiri dengan sagunya, orang Flores dengan sorgum dan orang Alor dengan jagungnya. Kalau anak-anak kecil dan anak mudanya selalu dijejali dengan beras tanpa melihat sejarah pemenuhan pangan nenek moyangnya, maka bangsa ini akan terus bergantung pada beras. Kita akan terus mengimpor beras dan menggantungkan diri pada bangsa lain.”

KETIKA WANITA BATAK JATUH CINTA DENGAN ALOR

Minggu lalu, selama 5 hari 5 malam aku bersama 5 teman patriot melakukan survei PLTS dan PLTMH di daerah Alor Selatan dan Alor Timur Laut. Di tengah survei aku berjumpa dengan sosok wanita yang kulitnya putih dan berbeda dengan perawakan orang Alor pada umumnya. Ternyata sosok wanita itu adalah orang Batak yang menikah dengan orang asli Alor. Aku lupa nama lengkapnya, yang kuingat dia punya marga Lingga. Okay, kita sebut saja dia Kak Lingga. Pertama aku tanya, kok bisa nikah dengan orang alor Kak,”tanyaku. Wah kalau udah cinta setengah mati mau gimana lagi, “Jawabnya dengan bumbu senyuman. Kulihat suami di sampingya juga tersipu-sipu. Aduh jadi pengen,eh. Continue reading Menelusuri Jejak-jejak Ketahanan Pangan Masyarakat Pegunungan Alor

Share this :

Pilkada DKI, Najwa Shihab, dan Indahnya Toleransi di Pegunungan Alor

Akhir-akhir ini jagad dunia maya sedang hangat dengan isu sara di Pilkada DKI. Mumpung masih anget-angetnya bolehlah sedikit urun tulisan. Tulisan ini tidak sedang mengarahkan Anda untuk memilih Ahok, Agus, ataupun Anies. Tidak pula ikut meramaikan penafsiran surat Al Maidah ayat 51.

Saya bukan Quraish Shihab yang ahli Tafsir. Apalagi Najwa Shihab yang ada manis-manisnya itu. Yang kalau menatap matanya bisa menggoyahkan iman. Saya juga bukan orang suci seperti Tong Sancong, Master Shifu, Master Ogway, Rinso, Krim ekonomi, wardah, sinsui, atau baiklin. Continue reading Pilkada DKI, Najwa Shihab, dan Indahnya Toleransi di Pegunungan Alor

Share this :

Anjing di Alor : dari Si Boy Anak Jalanan sampai Anjing Omnifora

Terdampar di Pulau Alor khususnya di desa-desa yang di dominasi oleh umat kristiani membaut saya sering berinteraksi dengan anjing. Dulunya anjing menjadi salah satu hewan yang saya takuti. Selain takut kena najis, takut kena gigit juga. Semua berubah ketika setiap harinya hidup berdampingan dengan binatang itu. Anjing di pegunungan mempunyai peran besar untuk manusia. Mulai dari berburu rusa dan babi sampai menjadi teman ketika pergi ke hutan atau ladang. Continue reading Anjing di Alor : dari Si Boy Anak Jalanan sampai Anjing Omnifora

Share this :

Merancang kehidupan baru

Akhir bulan lalu saya memasuki satu fase kehidupan baru. Babak baru kehidupan sebagai langkah awal untuk melipatgandakan kebaikan. Menikah. Ya, saya akhirnya menikah di usia seperempat abad. Tidak terlalu banyak kegugupan saat melewati pagi hari di tanggal 27 juni 2017 itu. Sudah menyiapkan mental sejak pertama kali suami datang kerumah meminta ijin kepada orang tua. Continue reading Merancang kehidupan baru

Share this :

Seperempat Abad

Halo generasi 92. Tahun ini kita panen seperempat abad. Saya sedang memikirkan tentang menuju tua pasca melewati usia 25 tahun. Entahlah belakangan ini saya merasa tua. Padahal sebelumnya saya tidak terlalu memikirkan korelasi antara umur dan aktivitas. Banyak yang mengatakan bahwa usia bukan patokan. Atau yang baru-baru ini sedang ramai tentang “zona waktu” masing-masing. Bahwa kita punya waktu masing-masing untuk mencapai sesuatu dan jangan bandingkan pencapaian orang lain dengan diri kita. Ikuti saja zona waktunya sendiri dan nikmati. Tapi tetap saja ada resah dalam hati dan merasa perlu mengevaluasi diri saat memasuki usia seperempat abad ini. Continue reading Seperempat Abad

Share this :